Laporan Investor Aset Kripto di Indonesia Tahun 2021 – Bagian 3: Penerapan Aset Kripto yang Lebih Luas

Ini merupakan bagian ketiga dan terakhir dari Laporan Investor Aset Kripto di Indonesia Tahun 2021! Kami akan menyajikan pandangan dari 20 ribu lebih pengguna Indodax terhadap peran wallet aset kripto, DeFi, dan stablecoin di masa mendatang dalam dunia perekonomian.

Poin Utama

  • Meski aset kripto masih memiliki jalan yang panjang untuk menuju adopsi yang lebih luas dan utilitas seperti mata uang fiat, 82.6% responden setuju bahwa aset kripto merupakan masa depan dari pembayaran
  • Mayoritas responden (77.4%) menggunakan wallet perangkat lunak untuk menyimpan dan mengakses aset kripto mereka. Para pelanggan ini menginginkan kenyamanan dan kemudahan penggunaan. Sangatlah penting membangun interface dan platform yang menyederhanakan kripto dan meningkatkan adopsi kripto di antara generasi Millenial dan generasi Z di masa depan
  • Bursa desentral (Uniswap, SushiSwap, dan lain-lain) telah digunakan oleh 15.2% responden — platform DeFi memiliki potensi yang tinggi dalam variasi domain, tapi mereka belum mencapai penggunaan yang lebih lua
  • Stablecoin dipandang sama pentingnya di masa depan perdagangan aset kripto dan pembayaran, karena kestabilan stablecoin setara mata uang fiat

Aset Kripto Sebagai Pembayaran Masa Depan 

Gambar dari Austin Distel di Unsplash

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan ketika orang baru mulai menyelami aset kripto adalah:

Kegunaan apa yang dimiliki bitcoin? Dengan kata lain, bisa digunakan untuk apa, selain sebagai penyimpanan nilai digital?

Berikut ini adalah beberapa contoh apa saja yang dapat dilakukan dengan mata uang fiat seperti dolar A.S. dan rupiah Indonesia: 

  • Diterima untuk hampir semua barang — sepatu lari, makanan, mobil
  • Ditransfer peer to peer dalam domestik dan internasional
  • Dipinjamkan di bursa untuk pembayaran berbunga 

Bitcoin dan aset kripto lainnya memiliki kegunaan yang mirip dengan uang fiat:

Aset kripto telah semakin mirip dengan mata uang tradisional dalam hal kegunaan yang diinginkan dan level penggunaan — estimasi terbaru jumlah individu yang memiliki aset kripto di A.S. adalah 10% dari populasi — dan data kami menunjukkan bahwa pasar Indonesia percaya pada potensi aset kripto untuk menggantikan sistem keuangan tradisional.

Seperti apakah masa depan pembayaran nanti? Banyak responden percaya bahwa aset kripto akan memainkan peran yang besar: 82.6% sangat setuju atau setuju bahwa aset kripto adalah masa depan pembayaran.

Responden sangat optimis pada crypto sebagai masa depan pembayaran.

Kunci keyakinan pada kemampuan aset kripto untuk mengubah bentuk pembayaran ini merupakan kebutuhan yang jelas untuk infrastruktur pembayaran alternatif di Indonesia. Bahkan di tahun 2021, sepertiga dari populasi Indonesia masih merupakan non-perbankan. Aset kripto dapat memenuhi kekosongan ini dengan menyediakan akses pembayaran tanpa-ijin dari siapapun dengan koneksi internet. Dilihat lebih luas, Asia Tenggara merupakan lokasi ideal untuk aset kripto melejit:

  • Sebanyak 650 juta orang di Asia Tenggara menggunakan sejumlah mata uang, dan tidak memiliki sistem keuangan yang satu, seperti Eropa atau A.S.
  • Arus pengiriman uang naik 43% di tahun 2020 hingga 15 milyar dolar, diproyeksikan akan mencapai 35 milyar dolar di tahun 2025; pembayaran digital diharapkan bertumbuh hingga 1.2 triliun dolar di tahun 2025
  • Asia Tenggara menambahkan 40 juta pengguna baru internet di tahun 2020, menjadi 400 juta

Sedangkan untuk keinginan melakukan transfer peer-to-peer kepada keluarga dan teman-teman — layanan mirip kripto seperti Venmo, Paypal, atau Alipay — sentimennya masih  bullish, namun dengan respon kuat pada “netral”.

Sentimen positif terkait transfer P2P, tetapi dengan kontingen “netral” yang lebih kuat.

Efek jaringan jelas berperan di sini: semakin banyak orang mengerti bagaimana cara kerja aset kripto dan mengadopsinya, semakin mudah untuk melakukan aktivitas seperti pengiriman uang yang peer to peer. Meski bagi sejumlah orang masih sulit untuk membayangkan mengirimkan uang ke orangtua yang kurang mengerti aset kripto, hal ini akan perlahan berubah seiring adopsi yang lebih luas dan interface yang lebih sederhana.

Wallets

Berdasarkan asas desentralisasi dari blockchain, tidak ada satupun bank atau entitas yang bertanggungjawab untuk sebuah akun kripto. Sebaliknya, akses ke tiap akun diberikan berdasarkan alamat publik, kode berupa 26–35 karakter yang misalnya dimulai dengan: bc1qm2f25… dan sebuah kunci privat, yang mirip dengan password. Meski wallet aset kripto tidak menyimpan mata uang, mereka sejatinya menyimpan kunci terenkripsi yang memungkinkan pengguna untuk mengakses dan mengirim saldo yang disimpan dalam sebuah alamat publik.

Wallet Perangkat Lunak Dibandingkan Wallet Perangkat Keras

Kunci privat wallet Anda bisa disimpan dengan 2 cara berbeda. Wallet software hadir dalam bentuk perangkat lunak yang diunduh di komputer atau ponsel Anda, seperti Coinbase Wallet atau Exodus. Mereka juga merupakan wallet online, yang dapat diakses dari manapun dengan koneksi internet. Tipikal wallet “panas” ini nyaman diakses dan memungkinkan pengguna untuk mengirim sejumlah kecil aset kripto. 

Wallet perangkat keras atau wallet “dingin” merupakan perangkat fisik yang tidak terhubung dengan internet, seperti Trezor. Mereka mengamankan kunci privat secara offline, sehingga lebih aman dan cocok untuk menyimpan sejumlah besar aset kripto. 

Mayoritas yang cukup kuat (70.4%) dari responden merasa familier dengan perbedaan wallet perangkat lunak dan perangkat keras. 

70.8% responden terbiasa dengan wallet perangkat keras dan wallet perangkat lunak

Ketika diminta memilih di antara keduanya, terlihat bahwa wallet perangkat lunak yang lebih nyaman telah memenangkan banyak responden Indonesia: sejumlah 77.4% menjawan Ya ketika ditanya apakah mereka hanya menyimpan aset kripto mereka di wallet perangkat lunak. 

Wallet perangkat keras bisa menjadi semacam investasi dan lebih sulit diakses, maka dapat dipahami individu dengan lebih sedikit aset atau mereka yang lebih nyaman menggunakan aplikasi di ponsel, tidak akan memilih untuk menyimpan kunci privat mereka di perangkat keras. 

Hal ini menggarisbawahi sebuah tema yang luas. Dalam laporan pertama kami, kami mendeskripsikan bahwa sebagian responden berusia 20-30 tahun — generasi yang mengharapkan teknologi yang lebih sederhana, keren, dan mudah digunakan. Sementara beberapa platform mendorong aset kripto lebih dekat pada aplikasi yang generasi ini ketahui — sebagai contoh, Wallet Coinbase menggunakan username yang mirip Venmo — masih ada ruang untuk membangun interface dan platform digital yang menyederhanakan kripto. Ke depannya, akan sangat penting untuk memikirkan tentang menjembatani jarak antara dunia yang cukup awam dengan kripto, dan generasi yang bertumbuh dengan Facebook, Instagram, dan Whatsapp.

DeFi dan Pinjaman

DeFi, atau “Decentralized Finance”  merujuk pada protokol blockchain yang memfasilitasi kegiatan termasuk trading, layanan peminjaman, tanpa pihak ketiga sebagai perantara. Protokol ini menarik inspirasi dari cara blockchain meniadakan kebutuhan bank atau transaksi tengah, dan menerapkan gagasan ini untuk peminjaman, bursa, market prediksi, crowdfunding, dan lain sebagainya.

Salah satu dari aplikasi pertama DeFi, yaitu Maker, meluncurkan stablecoin desentral yang berpatok pada dolar A.S. bernama Dai. Dai dirilis di akhir 2017, dan segera setelah itu, sejumlah proyek DeFi lainnya di atas jaringan Ethereum, mengikuti jejaknya. Untuk mengukur jumlah total partisipasi dan perkembangan penerapan DeFi, konsep TVL (total value locked) muncul. TVL merupakan pengukuran dari jumlah total nilai yang dikunci pada platform sebagai jaminan — sesuatu yang merupakan kesamaan dari semua aplikasi DeFi. Dengan mengunjungi DeFi Pulse, Anda bisa mengamati kenaikan yang signifikan dari DeFi, sejak sekitar setahun terakhir: dari 692 juta dolar TVL di Januar1 2020 hingga 50 milyar dolar di April 2021.

Beberapa contoh mayoritas perusahaan peminjam DeFi dan Pasar Prediksi

Berdasarkan data kami, DeFi merupakan area yang adopsinya belum se-menonjol adopsi aset kripto. 17.3% dari responden memiliki token DeFi, dengan token terpopuler:

  • yearn.finance (YFI): platform yang mengumpulkan penyimpanan, bunga, dan asuransi pada blockchain Ethereum 
  • SushiSwap (SUSHI): bursa desentral otomatis 
  • Uniswap (UNI): mirip dengan SushiSwap, bursa desentral yang pertama

Untuk menyelami penerapan DeFi lebih dalam, kami menanyakan hal berikut: 

  1. Pernahkah Anda trading di decentralized exchange (DEX) sebelumnya? Ya: 15.2%
  2. Pernahkah Anda meminjam dari/meminjamkan ke sebuah liquidity pool DeFi? Ya: 3.8%
  3. Pernahkah Anda meminjam/meminjamkan aset kripto sebelumnya? Ya: 5.8

Jumlah responden yang telah berdagang di DEX seperti Uniswap atau SushiSwap jauh melebihi mereka yang telah meminjam / meminjamkan ke kumpulan likuiditas atau meminjam / meminjamkan aset kripto.

Sekitar sepertujuh dari responden telah menggunakan decentralized exchange seperti SushiSwap dan Uniswap untuk trading kripto, meminjam/meminjamkan aset kripto dan berkontribusi di liquidity pool DeFi telah dilakukan dengan biaya yang jauh lebih rendah.

Penerapan DeFi yang berharga lainnya adalah kehadiran stablecoin — token yang menargetkan berkurangnya volatilitas dengan berpatok pada nilai mata uang fiat tertentu. 30.1% responden merasa mereka akan meminjam aset kripto lebih banyak jika dapat didenominasikan ke stablecoin berbasis IDR.

Stablecoins

Tiga stablecoin teratas oleh market capitalization adalah: Tether (USDT), USD Coin (USDC), dan Binance USD (BUSD). Ketiganya berpatok pada dolar A.S., dan memungkinkan pengguna untuk mengirim dan menggunakan aset digital tanpa perlu mengkawatirkan potensi fluktuasi pada nilainya. Hal ini sangat membantu dalam beberapa konteks. Contohnya, di bulan November 2020, USDC digunakan untuk mendistribusikan dukungan untuk pekerja medis dan lainnya di Venezuela di tengah ketidakstabilan politik dan inflasi yang tinggi. 

87.7% responden di survei kami setuju bahwa stablecoin yang berpatok pada IDR akan bermanfaat, dan berikut ini beberapa contoh penggunaannya:

Traiding dan pembayaran / pengiriman uang menonjol sebagai kasus penggunaan terbaik untuk stablecoin yang didukung IDR

Ketika digunakan dalam konteks trading, stablecoin dapat menjadi pilihan untuk kita berlindung dari volatilitas pasar atau bearish. Dalam konteks pembayaran atau pengiriman, stablecoin dapat mereplika kegiatan mengirim uang fiat ke luar negeri tanpa biaya yang sama dengan pengiriman fiat.

Seperti pernyataan Lael Brainard, anggota dari U.S. Federal Reserve’s Board of Governors:

Stablecoin hendak meraih fungsi dari uang tradisional tanpa bergantung pada perilisnya — seperti bank sentral — di balik uang tersebut..”

Kemunculan stablecoin sangat krusial untuk adopsi aset kripto yang lebih luas. Tokenomy telah bekerjasama dengan yayasan non-profit, IDK foundation, untuk mendukung perkembangan stablecoin yang berpatok pada nilai rupiah Indonesia, yaitu IDK. IDK dapat ditradingkan di Indodax ataupun Tokenomy.

Perkembangan lebih lanjut di area stablecoin ini akan disambut hangat oleh mereka yang telah bergabung dalam komunitas kripto, karena utilitas yang disediakan oleh stablecoin.

Ditulis oleh Jake Tennant, Data Analis dan Penulis di @ Tokenomy

Klik di sini untuk bagian 1
Klik di sini untuk bagian 2

Anda mungkin juga menyukai

%d blogger menyukai ini: