5 Cara Menilai Aset Crypto

Pada Oktober 2021 Bitcoin berhasil mencapai angka tertingginya yakni 65.000 dolar AS. Meskipun nilainya sangat berpotensi, aset crypto merupakan aset investasi yang kompleks, menantang, dan juga banyak menimbulkan kontroversi. Untuk menentukan seberapa nilai sebuah aset crypto dan seberapa besar potensinya hingga saat ini masih menjadi sebuah diskusi yang terus berjalan. Berikut adalah lima cara teknik pemeriksaan nilai aset crypto yang dapat digunakan untuk melihat peluang investasi di dalamnya.

  1. Besarnya potensi market yang tersedia
    Salah satu cara yang paling terkenal dalam menilai aset crypto adalah dengan cara memperkirakan seberapa mudah marketnya dapat diakses dan melakukan perbandingan dengan perkiraan kapitalisasi market yang ada pada saat itu. Salah satu contohnya adalah, banyak orang berpendapat bahwa Bitcoin merupakan sebuah bentuk investasi yang mirip dengan emas dalam hal menyimpan nilai yang terus berkembang.
    Cara menghitung yang dapat digambarkan adalah bila saat ini harga emas ada di angka $2000 per ons, maka persediaan emas yang sudah ditambang di dunia mencapai $13 triliun. Sedangkan untuk Bitcoin sendiri, jumlah maksimum persediaannya di pasar adalah 21 juta koin. Maka dalam hal ini perbandingan antara emas dan Bitcoin tidak valid dalam hal penyimpanan nilai aset itu sendiri. Sebagai contoh, bila nilai Bitcoin mencapai angka $620.000, maka Bitcoin hanya akan menyentuh angka 2% dari keseluruhan kapitalisasi emas di dunia.
    Keunggulan dari pendekatan satu ini adalah kesederhanaan dari pemikiran dasar yang ada di belakangnya. Dengan pendekatan ini, akan sangat mudah untuk memahami nilai aset crypto dan juga Anda dapat mendapatkan framework yang kuat untuk mempertimbangkan perbandingan antara sebuah aset crypto dan juga market lain.
  2. Penggunaan Rumus (MV=PQ)
    Salah satu alternatif penilaian crypto yang banyak didiskusikan oleh ahli pertama kali diajukan oleh Chris Burniske, seorang peneliti crypto, dan juga Jack Tatar yang merupakan managing partner dari Doyle Capital dalam buku yang berjudul ‘Cryptoassets: The Innovative Investor’s Guide to Bitcoin and Beyond’.  Kerangka berpikir mereka terkenal dengan rumus yang menjadi dasar penilaian aset crypto milik mereka yakni: (MV = PQ). Rumus tersebut dipinjam dari sebuah model tradisional yang digunakan untuk menilai mata uang dan ditarik berdasarkan asumsi bahwa nilainya berhubungan dengan besarnya market yang didukung dan juga kecepatannya dalam bergerak dalam pasar.
    Berikut adalah penjelasan rumus di atas :
    M = Jumlah mata uang di pasar
    V = Frekuensi rata-rata dari satu unit uang yang dibelanjakan
    P = Harga barang dan jasa
    Q = Jumlah barang dan jasa
    Sebagai contoh yang mudah dengan menggunakan angka bulat, mari berasumsi bahwa Bitcoin memproses 100 milyar transaksi (Q) dengan harga $100 (P) di setiap tahunnya. Maka PxQ = 100 milyar x $100 = $10 triliun per tahun. Bila velocity dari aset ini diasumsikan sebesar 5, maka kita dapat menyimpulkan bahwa potensi kapitalisasi market dari $10 triliun per tahunnya dibagi 5 adalah $2 triliun. Apabila kita membagi angka ini ke jumlah total Bitcoin yang ada, yakni 21 juta, maka nilai potensi Bitcoin adalah $2 triliun dibagi 21 juta, yang mana nilainya adalah $95,238 per koin. Bila kita berpendapat bahwa angka ini dapat dicapai dalam lima tahun ke depan, maka kita bisa memperkirakan rata-rata nilainya di masa sekarang. Hanya saja, kekurangan dari pendekatan ini sangat susah dilakukan karena penghitungan velocity aset crypto tidak mudah dilakukan.
  3. Menilai Aset Crypto Sebagai Jaringan
    Cara ketiga dalam menilai aset crypto dapat menggunakan ‘Metcalfe’s law’, sebuah teori teknologi yang menyatakan bahwa nilai dari sebuah jaringan itu proporsional dengan jumlah partisipan yang dikuadratkan. Bila Anda mempertimbangkan sosial media seperti Facebook, Instagram, atau Linkedin sebagai contoh, maka nilai dari satu penggunanya adalah nol. Namun apabila pengguna kedua ditambahkan, maka jaringan tersebut menjadi bernilai. Dengan bertambahnya pengguna dalam jaringan tersebut, maka nilainya pun semakin bertumbuh.
    Dalam penggunaan metode ini, nilai dari jaringan tidak dinilai dari jumlah penggunanya, namun dari hasil kuadrat dari ‘nilai’ yang dimiliki oleh satu pengguna. Bila tiap pengguna dianggap memiliki nilai 5, maka nilai jaringannya adalah kuadrat dari angka tersebut yakni 25. Teori ini sudah banyak digunakan dalam menilai jaringan sosial media yang dinilai memiliki akurasi yang tinggi.
  4. Penilaian berdasarkan harga produksi
    Harga dari penilaian produksi diambil dari thesis yang diajukan oleh Adam Hayes pada tahun 2015 dan telah disebarluaskan oleh banyak peneliti sejak saat itu. Teori yang dikeluarkan berpendapat bahwa crypto layaknya komoditas lain adalah subjek dari tantangan pemuatan harga secara tradisional bagi sisi penawaran.
    Para penambang crypto, para pemilik komputer yang memproses transaksi dalam jaringannya dan mendapatkan keuntungan dari sana, menghabiskan mata uang tradisional untuk memproduksi satu margin aset crypto. Hayes berpendapat bahwa apabila Bitcoin dinilai sebagai komoditas, maka biaya produksi setiap Bitcoin harus beriringan dengan harga dari aset itu sendiri.
    Bagaimanapun, bila penambangan Bitcoin menjadi tidak menguntungkan, maka para penambang bisa dengan mudah memindahkan perhatian mereka ke aset lain atau bahkan meninggalkan pasar seutuhnya. Sebagai hasil, nilai dari setiap Bitcoin dapat diestimasikan dengan meneliti biaya margin dari penambangan itu sendiri dibandingkan dengan yield yang diharapkan.
  5. Menghitung Nilai Berdasarkan Kelangkaan (Stock to Flow Model)
    Pendekatan terakhir adalah stock to flow model yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 2019 dalam sebuah makalah berjudul ‘Modeling Bitcoin Value with Scarcity’ oleh PlanB, sebuah biro riset crypto dengan nama samaran. Dalam model ini mereka menyatakan bahwa nilai Bitcoin adalah refleksi dari keterbatasannya dan hal tersebut dapat diukur dari rasio dari stock yang ada, sebuah hubungan antara nilai aset saat ini dengan jumlah Bitcoin yang diproduksi tiap tahunnya.
    Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai dari Bitcoin secara historis telah menunjukkan adanya korelasi dekat dengan meningginya kelangkaan seperti yang dijelaskan dalam teori ini. Hanya saja, teori ini memang hanya ditujukan untuk aset Bitcoin semata dan digunakan oleh mereka yang melihat kelangkaan sebagai karakteristik dominan dari sebuah aset.
Referensi: https://www.cfainstitute.org/-/media/documents/article/rf-brief/rfbr-cryptoassets.ashx

Anda mungkin juga menyukai

%d blogger menyukai ini: